Kamis, 14 Mei 2015

SeJarah NeGeri AboRu :)

SPIRIT BAKUDAPA:
NILAI KENDAHAN NEGERI ABORU
(Cerita Rakyat)
Oleh : Nn. Noni H. Nahumury
Siswa SMK Negeri 6 Ambon


Pada abad ke-12 atau sekitar tahun 1200, ada tujuh bersaudara keluar dari Nunusaku, Waitui (seram). Mereka adalah Kapitan Tua Saya dan keenam saudaranya.  Mereka keluar dengan meninggalkan seorang adik perempuan mereka. Mereka menuju ke Waitala. Setibanya mereka di Waitala, turunlah saudara dari kapitang Tua Saya bernama Lussy di sebuah tempat bernama Hualoy. Tempat ini berdekatan dengan Air Ama. Sedangkan kapitan Tua Saya dan keenam Saudaranya berangkat menuju Tihulale.
Setibanya mereka di Tihulale,  seorang saudara dari Kapitan Tua Saya turun lagi. Dia adalah Tualena. Dia berdiam di tempat tersebut. Kemudian Kapitan Tua Saya dan keempat  saudaranya menuju ke selatan pulau Haruku. Sesampainya mereka di tempat tersebut, yakni di Udik (Waemital), Tua Salai bergabung dengan Kapitan Salaka dan Rajawane di negeri Amamahina. Itu berarti tinggallah Kapitan Tua Saya dan ketiga saudaranya yang lain. Dan keempat orang itu pun melanjutkan pelayaran (perjalanan) mereka. Kali ini mereka menuju ke Hatulawane.
Di Hatulawane singgah dan berdiam lagi seorang saudara Kapitan Tua saya. Tepatnya di negeri Haria. Dan dia inilah yang menjadi cikal-bakal marga Hattu di Haria yang masih ada sampai dengan sekarang ini. Dia adalah Hattu.
Selain itu turun pula seorang saudara Tua Saya yang lain. Dia ini turun lalu berjalan menyusuri pantai dan gunung Booi. Dia, kemudian bergabung dengan Kapitan Tanah Sale. Dia adalah Kapitan Hattusupit.
Tinggal Kapitan Tua Saya dan Rukun Pokunussa/Leuhery. dua orang bersaudara itu terus melakukan perjalanan. Mereka menuju ke arah barat. Mereka turun di Wokorui. Setelah mereka turun, Kapitang Tua saya mendiami Lattu Saman sedangkan adiknya yang bernama Rukun Pokunussa/Leuhery berdiam di Seittraloi.
Perjumpaan selalu menjadi titik awal dimulainya sebuah komunitas. Perjumpaan berarti ada sebuah peristiwa yang dilakoni oleh minimal dua orang. Dua orang inilah yang menjadi cikal bakal sebuah komunitas yang lebih besar. Sejarah Negeri Aboru, dimulai dengan perjumpaan antara Kapitan Tua Saya dan Kapitan Nahumury pada abad ke-15 atau sekitar tahun 1512. Kapitan Nahumury adalah anak raja yang berasal dari Sulawesi. Saat itu dia dalam perjalanan ke Maluku Tengah. Dalam perjalanan itulah dia bertemu dengan Kapitan Tua Saya di Amaika. Amaika adalah nama kampung tua Aboru.  Perjumpaan itu adalah perjumpaan antara anak asli Maluku dengan pendatang. Tapi perjumpaan itu melahirkan sebuah kesepakatan. Saat itu kedua kapitan tersebut berusaha mencari tempat untuk membuka sebuah negeri baru. Di negeri baru itu, Kapitan Tua Saya berdiam di sebuah tempat yang namanya Naira. Namun di Naira tidak ada air. Oleh sebab itu Kapitan Tua Saya mencari lagi tempat baru di sebelah barat. Di bagian barat ini Kapitan Tua Saya dan Kapitang Nahumury berdekatan. Kapitan Nahumury tinggal di Olokuo. Kedua kapitan ini kemudian berjalan bersama melewati sebuah sumber air yang bernama Waetahu. Di negeri yang berlimpah air ini kedua kapitan itu menetap. Dan Oloako inilah yang menjadi cikal-bakal Negeri Aboru sekarang. Aboru yang berarti Aman Horui atau negeri yang baru dibuka. Di negeri yang baru dibuka ini banyak terdapat pohon baru. Pohon baru adalah pohon serat kulitnya bisa dibuat tali (hisbiscus tiliaceus).
Di negeri Aboru, Kapitan Tua Saya dan Kapitan Nahumury membangun rumah tinggal. Keduanya membangun rumah di tengah-tengah Negeri Aboru. Sesudah keduanya membangun rumah maka warga masyarakat yang masih berada di hutan  disuruh untuk turun. Begitupun dengan masyarakat yang berdiam di Negeri Amaika. Semuanya disuruh untuk menetap di Negeri Aboru.
Dalam komunitas (kelompok) seperti itu tanpa pemimpin, bisa menjadi masalah. Komunitas semacam itu bisa terancam bubar kembali. Oleh karena itu, atas inisiatif kedua kapitan, dicarilah seorang pemimpin.
Rupanya untuk menghindari salah paham di antara kedua kapitan itu, dicarilah seorang pemimpin yang bukan salah satu di antara keduanya. Bukan Kapitan Tua Saya atau Kapitan Nahumury yang jadi pemimpin. Keduanya sepakat menunjuk Raja Negeri Iwa, Simon Sirih Wae (Raja Tua Sinay). Namun penunjukkan itu ditolaknya. Namun Simon Sirih Wae (Raja Tua Sinay) tidak berhenti pada penolakannya itu saja. Dia memberikan pertimbangan kepada kedua kapitan yang menunjuknya itu. Dia lalu mengusulkan nama seorang cucunya, yakni Yonas Pusumonya. Dan usulannya itu diterima. Maka Yonas Pusumonya diangkat menjadi Raja Negeri Aboru.
Pada masa pemerintahannya itulah Negeri Aboru yang baru, negeri yang telah berada di pesisir pantai itu masyarakatnya dikumpulkan atau dihimpun ke dalam lima soa. Soa-soa tersebut adalah....
1.        Soa Salahitu yang terdiri atas mata rumah atau marga Saija
2.      Soa Hura yang terdiri atas mata rumah atau marga Nahumury
3.      Soa Rissa yang terdiri atas mata rumah atau marga Sinay
4.      Soa Pelauw yang terdiri atas mata rumah atau marga Akihary
5.      Soa Patti yang terdiri dari mata rumah atau marga Usmany
Struktur masyarakat Aboru dimulai dari Matarumah Rumah Tua. Setiap matarumah dihimpun menjadi soa, dan dari soa dihimpun menjadi Aman. Setiap matarumah dipimpin oleh kepala matarumah (Orang Tua). Soa dipimpin oleh kepala soa sedangkan Aman dipimpin oleh seorang kepala (tokoh) yang digelari UPU AMAN atau UPU LATTU.
Selain itu Aboru mempunyai nama lain. Nama dimaksud adalah nama teon atau negeri adat. Aboru dalam nama teon (negeri adat) disebut LEALOHI SAMA SURUH.
Sebagai negeri adat, Aboru mempunyai juga rumah adat. Nama teon rumah adat (baeleo) Negeri Aboru adalah SARIAMAN, yang artinya tempat musyawarah negeri.
Negeri Aboru termasuk dalam masyarakat Patasiwa. Klan (mata rumah perintah) atau matarumah raja adalah USMANY.
Negeri Aboru, masyarakatnya beragama Kristen. Hal ini berawal ketika pada abad ke-16 atau sekitar tahun 1630 untuk pertama kalinya Injil Masuk ke Aboru yang dibawa oleh Fransiskus de Sales. Lelaki Perancis ini berdasarkan data yang ada lahir pada 21 Agustus 1567. Ketika dia menyebarkan agama Kristen di Aboru, dia ditentang oleh Kapitan Tua Saya dan ketiga anaknya masing-masing Samalattu, Henalattu, dan Risalattu, serta Kapitan Nahumury. Padahal  masyarakat Aboru dan seorang anak Kapitan Tua Saya yang bernama Rekson bersedia menerima ajaran tersebut.
Mereka yang menolak ajaran agama Kristen itu beralasan bahwa mereka berjalan dari matahari terbit sampai matahari terbenam sehingga tidak boleh ada seorang pun yang boleh masuk ke negeri itu dengan ajaran apapun.
Kondisi seperti ini tentu saja menciptakan pro dan kontra di negeri Aboru. Akibatnya dengan kesadaran sendiri Kapitan Tua Saya beserta ketiga anaknya, serta Kapitan Nahumury, dan masyarakat Aboru yang tidak mau menerima Injil, keluar dari Aboru dan menetap di hutan. Sebuah cara bijak menghindari bentrok. Menghindar adalah cara bijak tidak terlibat bentrok.
Ajaran yang dibawa oleh lelaki Perancis itulah yang dianut masyarakat Aboru sampai dengan sekarang ini.
Ini adalah Batas-batas negeri Aboru
·         Sebelah Timur  berbatasan denggan petuanan Negeri Hulaliu.
·         Sebelah Barat berbatasan dengan petuanan Negeri Wasu.
·         Sebelah Utara berbatasan denggan petuanan Negeri Pelaw.
·         Sebelah Selatan berbatasan dengan Laut Banda.
(Hasil wawancara dengan Bapak  : Izac  Saija, tokoh adat Negeri Aboru, pada 21 Maret 2015)  

Penulis

Nn.Noni . H . Nahumury
Siswa SMK Negeri 6 Ambon
Program Studi : Akuntansi

Dokumentasi  WawancarDokumentasi HasiL wawancara dengan Bapak Izac Saija yang dilaksanakan di ambon  Pada Hari sabtu Tanggal 21 Maret 2015